Project Description

Saudaraku,

1. Ulama sepakat yang lebih utama mendahulukan yang wajib dari yang sunnah.

2. Punya hutang puasa sejatinya memiliki hutang kepada ALLAH dan hutang kepada ALLAH lebih layak untuk dinomorsatukan.

“Hutang kepada ALLAH lebih berhak untuk dibayar.”
(HR. Bukhari dan Muslim).

1. Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu- menasehati kita:
“Mulailah dengan hak ALLAH (hutang puasa kepada ALLAH), lalu silakan berpuasa sunnah sesuka hati anda.”
(HR. Abdurrazzaq 7715).

2. Aisyah -radhiyallahu’anha- pun memberikan masukan:
“Jangan (berpuasa sunnah) sampai anda membayar hutang puasa kepada ALLAH.”
(HR. Abdurrazzaq 7717).

3. Kita tidak tahu ajal kita, maka selayaknya kita segerakan membayar hutang puasa agar kita meninggal tanpa membawa hutang kepada ALLAH.

4. Lebih selaras dengan redaksi sabda Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-:
“Barangsiapa yang berpuasa ramadhan secara penuh lalu ia lanjutkan dengan berpuasa 6 hari di bulan syawwal, maka ia mendapat pahala senilai puasa 1 tahun penuh.”
(HR. Muslim).

Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- memberikan urutannya:
–> Puasa ramadhan secara penuh lalu puasa 6 hari di bulan syawwal.

Zhahir redaksi hadits di atas menyatakan puasa 6 hari setelah menyempurnakan puasa ramadhan.

8. Terakhir, puasa ramadhan adalah rukun islam ke 4 dan menyempurnakan rukun islam lebih didahulukan dari puasa sunnah.

Wallahu a’lam.

Disarikan dari:

  1. Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz.
  2. Fatwa Syaikh Muhammad Al ‘Utsaimin.
  3. Fatwa Syaikh Abdullah Jibrin.
  4. Fatwa Syaikh Sa’ad Syatsri.
  5. Hasyiah Dassuqi 5/96.
  6. Mughnil Muhtaj 1/445.
  7. Kasysyaful qina’ 2/334.

✏️ Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri

For more : lynk.id/cspeduli