Di Tengah Lautan, sekitar 45 menit perjalanan laut dari Pelabuhan Kuala Langsa, berdiri sebuah desa kecil bernama Telaga Tujuh. Ironisnya, meski mengusung nama “telaga”, pulau ini sama sekali tidak memiliki sumber air bersih.
Hidup di Pulau, Tanpa Akses Air Bersih. Setiap hari, warga harus berjuang mendatangkan air dari daratan. Perjalanan panjang dan melelahkan ditempuh demi memenuhi kebutuhan hidup. Air bersih yang menjadi kebutuhan pokok, justru menjadi barang mahal di Telaga Tujuh.
Kebutuhan Harian yang Tinggi. Rata-rata, warga Telaga Tujuh membutuhkan sekitar 45 ton air bersih setiap hari untuk minum, memasak, mandi, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Pasokan itu diperoleh dari Desa Lengkong. Air ditampung ke dalam mobil tangki, lalu diangkut menggunakan kapal menuju pulau. Di musim hujan, warga bisa sedikit lega karena mereka dapat menampung air hujan. Namun qadarullah, sudah lebih dari sepekan hujan tak kunjung turun. Persediaan air semakin menipis, sementara kebutuhan warga tidak bisa ditunda.
Pulau dengan Nama Indah, Realita yang Pahit. Nama “Telaga Tujuh” mungkin terdengar indah. Tapi bagi warganya, keindahan itu hanya sekedar nama, namun betapa sulitnya mereka mendapatkan air bersih. Ini merupakan sebuah ironi, yang harus segera mendapatkan solusi.
Bantuan diberikan kepada saudara-saudara kita yang sedang diuji dalam hal ekonomi, kesehatan, dan kebutuhan pokok lainnya.
===
✨ Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir hingga akhirat, dan Allah balas dengan surga.
🕌 Yuk terus berbagi kebaikan!
📌 Donasi via:
🔗 BSI 7814 5000 41 | a.n. CINTA SEDEKAH SOSIAL
📞 Konfirmasi:
0812 5000 170 (Kak Firdaus Bahan)