Sedekah sering kali identik dengan memberikan uang atau harta kepada orang lain. Padahal, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa makna sedekah jauh lebih luas.
Bahkan, setiap hari kita memiliki kesempatan untuk bersedekah, dan tidak semuanya membutuhkan uang.
Hal ini dijelaskan dalam Hadits Arbain An-Nawawiyah yang ke-26.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عَنْ أَبي هُرَيرةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( كُلُّ سُلامَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقةٌ ، كُلَّ يَوْمٍ تَطلُعُ فِيْهِ الشَّمْسُ : تَعدِلُ بَينَ الاِثْنَيْنِ صَدَقَةٌ ، وَتُعِيْنُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ، فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا ، أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقةٌ ، والكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقةٌ ، وبِكُلِّ خُطْوَةٍ تَمشِيْهَا إِلَى الصَّلاَةِ صَدَقةٌ ، وتُمِيْطُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ صَدَقَةٌ ))
“Setiap persendian manusia memiliki kewajiban untuk bersedekah setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan dua orang yang berselisih adalah sedekah. Membantu seseorang menaiki kendaraannya atau mengangkat barangnya ke atas kendaraan juga merupakan sedekah. Perkataan yang baik adalah sedekah. Setiap langkah menuju shalat adalah sedekah. Dan menyingkirkan gangguan dari jalan juga merupakan sedekah.”
(HR. Bukhari no. 2989 dan Muslim no. 1009).
Hadits ini menunjukkan bahwa sedekah tidak selalu berbentuk harta. Banyak kebaikan sederhana yang kita lakukan setiap hari ternyata juga bernilai sedekah.
Kata sulāmā dalam hadits bermakna persendian. Ada pula ulama yang memaknainya sebagai tulang.
Dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa manusia memiliki 360 persendian.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّهُ خُلِقَ كُلُّ إِنْسَانٍ مِنْ بَنِى آدَمَ عَلَى سِتِّينَ وَثَلاَثِمَائَةِ مَفْصِلٍ
“Sesungguhnya setiap manusia dari keturunan Adam diciptakan memiliki tiga ratus enam puluh persendian.”
(HR. Muslim no. 1007).
Lalu bagaimana cara kita memenuhi kewajiban sedekah tersebut?
Allah telah memberikan banyak jalan kepada kita.
Setiap bentuk qurbah, yaitu amalan yang dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah, dapat menjadi sedekah. Jadi, sedekah tidak harus selalu berupa mengeluarkan uang.
Selama seseorang melakukan kebaikan sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah, ia telah mendapatkan kesempatan untuk bersedekah.
Kadang kita mengira bahwa sedekah harus memberikan sesuatu kepada orang lain.
Padahal, ucapan yang baik pun termasuk sedekah.
Ucapan yang baik dapat berupa dzikir seperti tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir. Bisa pula berupa perkataan yang menyenangkan, nasihat yang baik, mengajarkan ilmu, atau perkataan lain yang membawa manfaat.
Dengan demikian, menjaga lisan agar selalu mengeluarkan perkataan yang baik juga merupakan salah satu bentuk sedekah.
Tidak perlu mengeluarkan uang. Cukup gunakan lisan untuk sesuatu yang bermanfaat.
Hal sederhana lainnya yang sering kita lakukan adalah berjalan menuju masjid untuk menunaikan shalat.
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa setiap langkah menuju shalat merupakan sedekah, baik masjidnya dekat maupun jauh.
Bahkan, setiap langkah tersebut memiliki keutamaan tersendiri.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ تَطَهَّرَ فِى بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِىَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً
“Barangsiapa bersuci di rumahnya kemudian berjalan menuju salah satu rumah Allah untuk menunaikan kewajiban yang Allah tetapkan, maka salah satu langkahnya menghapus dosa dan langkah lainnya mengangkat derajatnya.”
(HR. Muslim no. 1553).
Jadi, perjalanan menuju masjid bukan sekadar perjalanan biasa.
Setiap langkahnya memiliki nilai di sisi Allah.
Pernah menemukan dua orang yang sedang berselisih?
Jika kita mampu membantu mendamaikan keduanya dengan cara yang baik dan adil, itu pun termasuk sedekah.
Allah Ta'ala berfirman:
وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِنْ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا وَالصُّلْحُ خَيْرٌ
“Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik.”
(QS. An-Nisa': 128).
Islam sangat mendorong terciptanya perdamaian. Karena itu, membantu menyelesaikan perselisihan dan mendekatkan kembali orang-orang yang berselisih merupakan salah satu bentuk kebaikan yang bernilai sedekah.
Rasulullah ﷺ juga memberikan contoh yang sangat sederhana: membantu seseorang menaiki kendaraannya atau membantu mengangkat barangnya.
Sekilas mungkin terlihat seperti pertolongan kecil.
Namun di sisi Allah, kebaikan tersebut bernilai sedekah.
Ini menunjukkan bahwa kesempatan untuk bersedekah sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita.
Ketika membantu orang tua membawa barang, membantu teman, menolong seseorang yang kesulitan, atau memberikan bantuan sederhana lainnya, semuanya bisa menjadi amal yang bernilai jika dilakukan karena Allah.
Ada satu lagi kebaikan yang mungkin terlihat sangat sepele: menyingkirkan sesuatu yang mengganggu atau membahayakan orang lain dari jalan.
Misalnya menemukan benda yang dapat membuat orang tersandung, kemudian kita menyingkirkannya.
Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa hal tersebut juga termasuk sedekah.
Bahkan dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa menyingkirkan gangguan dari jalan merupakan salah satu cabang keimanan.
Beliau bersabda:
الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ
“Iman itu memiliki tujuh puluh atau enam puluh sekian cabang. Yang paling utama adalah ucapan ‘lā ilāha illallāh’, sedangkan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu merupakan salah satu cabang iman.”
(HR. Muslim no. 162).
Menariknya, semua kewajiban sedekah yang berkaitan dengan persendian tersebut dapat dicukupi dengan shalat Dhuha dua rakaat.
Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Pada pagi hari, setiap persendian dari kalian wajib bersedekah. Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, amar makruf adalah sedekah, nahi mungkar adalah sedekah. Semua itu dapat dicukupi dengan dua rakaat shalat Dhuha.”
(HR. Muslim no. 1704).
Maka shalat Dhuha bukan hanya amalan sunnah yang dikerjakan ketika memiliki waktu luang. Ada keutamaan besar di baliknya sebagai bentuk syukur atas nikmat Allah berupa kesehatan dan keselamatan anggota tubuh.
Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan bahwa bentuk tubuh manusia dan keselamatan seluruh anggota badannya merupakan nikmat besar dari Allah.
Karena itu, setiap persendian memiliki bagian dalam bersedekah sebagai bentuk syukur kepada Allah atas nikmat tersebut.
Coba kita renungkan.
Setiap hari kita menggunakan tangan untuk bekerja, kaki untuk berjalan, mata untuk melihat, dan berbagai anggota tubuh lainnya untuk menjalani kehidupan.
Sering kali semua itu kita nikmati tanpa kita sadari sebagai nikmat yang sangat besar.
Hadits ini mengingatkan kita bahwa kesehatan dan keselamatan tubuh sendiri merupakan nikmat yang patut kita syukuri.
Hadits ini memberikan gambaran yang luas tentang makna sedekah.
Sedekah bisa berupa:
mendamaikan orang yang berselisih;
membantu orang lain;
berkata baik;
berdzikir;
mengajarkan ilmu;
berjalan menuju masjid;
menyingkirkan gangguan dari jalan;
amar makruf nahi mungkar;
dan berbagai bentuk kebaikan lainnya.
Para ulama menjelaskan bahwa contoh-contoh yang disebutkan Rasulullah ﷺ dalam hadits ini bukanlah pembatasan. Ada amal yang manfaatnya kembali kepada diri sendiri dan ada pula yang manfaatnya dirasakan oleh orang lain. Keduanya dapat termasuk sedekah.
Syaikh Abdul Muhsin Al-'Abbad hafizhahullah menjelaskan bahwa amalan dalam hadits ini ada yang berupa ucapan dan perbuatan. Ada yang manfaatnya hanya dirasakan oleh pelakunya (qaashir) dan ada yang manfaatnya sampai kepada orang lain (muta'addi).
Pada akhirnya, Hadits Arbain ke-26 mengajarkan sesuatu yang sangat menenangkan:
Kesempatan untuk bersedekah terbuka setiap hari bagi siapa saja.
Tidak harus menunggu kaya.
Tidak harus menunggu punya uang lebih.
Bahkan hal-hal sederhana yang kita lakukan dalam keseharian dapat menjadi sedekah ketika dilakukan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah.
Tersenyum, berkata baik, membantu orang lain, berjalan ke masjid, mendamaikan orang yang berselisih, hingga menyingkirkan gangguan dari jalan—semuanya bisa menjadi kesempatan untuk meraih pahala.
Jadi, kalau hari ini kita belum mampu bersedekah dengan uang, jangan merasa tidak bisa bersedekah.
Karena ternyata, Allah telah memberikan kepada kita begitu banyak cara untuk bersedekah setiap hari.
Dan salah satu nikmat terbesar adalah ketika kita masih diberi kesempatan untuk menggunakan tubuh yang sehat tersebut untuk melakukan kebaikan.