Sedekah tidak harus selalu dalam jumlah besar. Bahkan sesuatu yang sangat sederhana, seperti sebutir kurma, bisa memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah selama diperoleh dengan cara yang halal dan diberikan dengan ikhlas.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ يَتَصَدَّقُ أَحَدٌ بِتَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ إِلاَّ أَخَذَهَا اللَّهُ بِيَمِينِهِ فَيُرَبِّيهَا كَمَا يُرَبِّى أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ أَوْ قَلُوصَهُ حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الْجَبَلِ أَوْ أَعْظَمَ
“Tidaklah seseorang bersedekah dengan sebutir kurma dari hasil usahanya yang halal, melainkan Allah akan menerimanya dengan tangan kanan-Nya. Kemudian Allah mengembangkan sedekah tersebut sebagaimana seseorang memelihara anak kuda atau anak unta betina miliknya, hingga sedekah itu menjadi sebesar gunung atau bahkan lebih besar.”
(HR. Muslim no. 1014).
Hadis ini memberikan gambaran yang sangat indah. Nilai sedekah di sisi Allah tidak selalu sama dengan nilai barang yang kita keluarkan.
Bagi kita mungkin hanya sebutir kurma. Tetapi jika berasal dari harta yang halal dan diberikan dengan ikhlas, Allah dapat melipatgandakan pahalanya dengan cara yang tidak pernah kita sangka.
Selain jumlahnya, hal yang sangat penting dalam bersedekah adalah dari mana harta tersebut diperoleh.
Harta yang halal menjadi salah satu sebab diterimanya amal. Sebaliknya, makanan, penghasilan, dan harta yang diperoleh melalui cara yang haram dapat menjadi penghalang terkabulnya doa.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan seseorang yang sedang melakukan perjalanan jauh. Ia dalam keadaan sangat membutuhkan pertolongan, mengangkat kedua tangannya dan berdoa kepada Allah.
Namun kondisi orang tersebut justru digambarkan dengan keadaan:
وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ
“Makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi makan dari sesuatu yang haram. Maka bagaimana mungkin doanya dikabulkan?”
(HR. Muslim no. 1014).
Karena itu, sebelum memikirkan seberapa besar sedekah yang akan kita berikan, kita juga perlu memperhatikan kehalalan harta yang kita gunakan untuk bersedekah.
Pembahasan mengenai harta haram dapat dilihat dari beberapa keadaan.
Contohnya adalah khamar, babi, atau benda-benda najis.
Harta seperti ini tidak dapat digunakan untuk sedekah dengan harapan mendapatkan pahala. Harta tersebut harus diperlakukan sesuai ketentuan syariat, termasuk mengembalikannya kepada pemilik jika memang memiliki pemilik, atau dimusnahkan apabila memang tidak dapat dimanfaatkan.
Contohnya adalah barang hasil pencurian, seperti HP atau kendaraan yang dicuri.
Meskipun kemudian barang tersebut disedekahkan, hal itu tidak menjadikannya sedekah yang diterima.
Mengapa?
Karena masalah utamanya bukan sekadar bagaimana barang tersebut digunakan, tetapi barang itu memang bukan milik orang yang mengambilnya.
Maka kewajibannya adalah mengembalikan barang tersebut kepada pemilik sebenarnya.
Contohnya adalah harta yang berasal dari riba atau keuntungan dari perdagangan barang yang haram.
Harta semacam ini juga tidak boleh digunakan untuk bersedekah dengan tujuan mendapatkan pahala sedekah.
Harta tersebut perlu dibersihkan dari kepemilikan dengan cara yang sesuai dengan ketentuan syariat.
Adapun apakah proses mengeluarkan harta haram tersebut kemudian disebut sebagai “sedekah”, para ulama memiliki perbedaan pendapat.
Namun yang perlu dipahami, mengeluarkan harta haram bukanlah sedekah yang mendatangkan pahala sebagaimana sedekah dari harta halal.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تُقْبَلُ صَلاَةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلاَ صَدَقَةٌ مِنْ غُلُولٍ
“Tidak diterima shalat tanpa bersuci dan tidak pula sedekah dari ghulul (harta haram).”
(HR. Muslim no. 224).
Ghulul dalam pembahasan ini berkaitan dengan harta yang diperoleh secara tidak benar dan memiliki kaitan dengan hak orang lain.
(Lihat Syarh Al-Arba'in An-Nawawiyyah Al-Mukhtashar, hlm. 92–93).
Dari pembahasan ini kita mendapatkan pelajaran sederhana tetapi penting:
Jangan merasa bahwa sedekah harus selalu besar agar bernilai di sisi Allah.
Sebaliknya, jangan pula menganggap remeh sedekah yang kecil.
Satu kurma saja, jika berasal dari penghasilan yang halal dan diberikan dengan ikhlas, dapat Allah kembangkan pahalanya hingga sebesar gunung atau bahkan lebih.
Jadi, ketika kita ingin bersedekah, jangan hanya bertanya:
“Berapa yang harus saya keluarkan?”
Tetapi tanyakan juga:
“Apakah harta yang saya sedekahkan ini halal?”
Karena yang kita cari bukan sekadar berkurangnya harta di tangan, tetapi diterimanya amal oleh Allah dan keberkahan pada harta yang kita miliki.
Dan terkadang, sedekah yang terlihat kecil di mata manusia justru menjadi sangat besar di sisi Allah.