Lempar Kebaikan Sembunyi Orang

———

Sekilas pernyataan diatas senada dengan ungkapan *lempar  batu sembunyi tangan*. Namun muatan keduanya tentu berbeda.

Ketika seorang anak kecil memecahkan gelas, cendrung anak itu tidak mau mengaku lalu menuding dan menyalahkan saudaranya. Maka ini maksud dari lempar batu sembunyi tangan. Lebih akrab disebut pengecut atau tidak bertanggung jawab.

Tapi kali ini berbeda, ia seorang pemberani dan terpuji. Banyangkan, ia rela berkorban tanpa dikenal. Karena yg ia lakukan adalah lempar kebaikan sembunyi orang.

Siang bolong itu kondisi masjid sepi tak berpenghuni. Kira-kira seperti itulah  yg disaksikan oleh sepasang mataku ini. Saat itu aku sedang mampir merebahkan diri diatas karpetnya.

Nampak dari kejauhan  seorang pemuda yg tergesa-gesa mendekat ke arah masjid.

Pria itu bertopi namun tak bertopeng. melangkah cepat menuju baris belakang dekat kotak infaq.

Dik duk …

wah! apa gerangan yg akan diperbuatnya ??

Sedari awal aku merasa tidak perlu memperhatikannya. Namun kok  lama kelamaan tingkah lakunya mencurigakan. Apa dia mengira aku tertidur karena posisiku yg baringan ?? Sehingga ia merasa aman melancarkan aksinya …

Sigap, tangkas dan cepat  dengan sebilah benda berbentuk segi empat di tangannya. Itu yg aku lihat ketika melirik ke arahnya.

Sayang, Tidak lama kemudian ia menutup ranselnya lalu pergi sembari menutup wajah dengan topi. Begitu singkat ia mengakhiri aksinya tadi.

Gak pakai lama, sudah lama aku memendam rasa penasaran terhadapnya. Aku pun bangkit menuju TKP.

Subhanallah,

Barulah aku tau, aku pun menunduk malu dan menggelangkan kepala.

rupanya ini yg dinamakan lempar kebaikan sembunyi orang.

Ternyata lelaki tadi sedang berbuat kebaikan. Kotak segi empat tadi bukanlah bom atau segepok uang infaq. Sekali-kali bukan.

Melainkan segi empat itu adalah bentuk al Qur’an. Ia bersedekah al Qur’an untuk jama’ah masjid. Sengaja ia taruh disana dalam jumlah yg cukup banyak.

Sepertinya al Qur’an-al Qur’an tersebut baru ia beli karena masih ada bekas sobekan harganya dan belum mengering.

Bayangkan pengorbanannya, ia sengaja pilih waktu itu supaya jama’ah masjid tidak ada yg mengetahuinya.

Subhanallah, aku pun mematung, dibuat kagum olehnya …

Sepertinya ia meneladani kisah sekarung gandum misterius pada zamannya Ali bin Husain _rahimahullah_.

Sekarung gandum yg mengejutkan kaum fakir. Bagaimana bisa, setiap malam telah sedia sekarung gandum di depan pintu rumah mereka.

Akhirnya mereka tahu bahwa itu ulah Ali bin Husain _rahimahullah_, setelah beliau wafat dari bekas hitam di pundaknya dan berhentinya  sekarung gandum misterius itu.

Dalam hatiku berbisik lirih,

Ya Allah semoga aku dan pembaca budiman bisa meneladaninya.

Semoga Allah membalas pemuda misterius tadi dengan kebaikan yang melimpah, Amiin.

(Disalin dari pengalaman penulis, Kamis, 21 Muharram 1439)

=========

di Wisma Cinta Sedekah, Ragunan.

Kamis, 13 Safar 1439

Fachrurozi

Mahasiswa LIPIA Progam Takmili 1