Semangat Para Sahabat Nabi Dalam Bersedekah

Para pembaca sahabat CSPeduli yang berakhlaq mulia berikut kami sajikan artikel pilihan yang bersumber dari kumuplan artikel bimbinganislam.com, “Semangat Para Sahabat Nabi Dalam Bersedekah”. Selamat membaca.


عَنْ أَبِيْ مَسْعُودٍ عُقْبَةَ بْنِ عَمْروٍ الأَنْصَارِيِّ الْبَدَرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: لَمَّا نَزَلَتْ آيَةُ الصَّدَقَةِ كُنَّا نُحَامِلُ عَلَى ظُهُورِنَا. فَجَاءَ رَجُلٌ فَتَصَدَّقَ بِشَيْءٍ كَثِيْرٍ فَقَالُوا: مُرَاءٍ، وَجَاءَ رَجُلٌ آخَرُ فَتَصَدَّقَ بِصَاعٍ فَقَالُوْا: إنَّ اللهَ لَغَنِيٌّ عَنْ صَاعِ هَذَا، فَنَزَلَتْ { الَّذِيْنَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِيْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِيْنَ لَا يَجِدُونَ إِلاَّ جُهْدَهُمْ } [ التوبة ٧٩ ] الآية.

Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amr Al-Anshari Al-Badri radhiyallahu ‘anhu ia berkata:

“Setelah turun ayat yang memerintahkan sedekah, kami memanggul harta sedekah kami, ada seseorang yang datang dengan membawa harta sedekah yang sangat banyak, kemudian orang-orang munafik berkata, “Orang itu sedekah karena riya.” Kemudian datang orang lain yang bersedekah satu sha’, kemudian orang-orang itu berkata, “Sungguh Allah tidak membutuhkan harta sedekah satu sha’ ini.” Maka turunlah firman Allah Ta’ala:

“(Orang munafik) yaitu mereka yang mencela orang-orang beriman yang memberi sedekah dengan sukarela dan yang (mencela) orang-orang yang hanya memperoleh (untuk disedekahkan) sekadar kesanggupannya.” (QS. At-Taubah: 9: 79).

(HR. Al-Bukhari, no. 1425. & Muslim, no. 1018).


Faedah Hadis

Hadis ini memberikan faedah-faedah berharga, di antaranya:

  1. Sedekah adalah memberikan harta dengan suka rela untuk orang-orang fakir miskin karena mencari ridha Allah Ta’ala. Disebut sedekah karena seseorang memberikan hartanya karena Allah Ta’ala sebagai bukti kejujurannya, karena setiap orang mencintai harta, sebagaimana firman Allah Ta’ala (yang artinya):|“Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr : 20).
  2. Para sahabat radhiyallahu anhum berlomba-lomba untuk bersedekah dan menyerahkannya kepada Rasulullah (). Inilah karakter para sahabat nabi, ketika turun ayat yang memerintahkan sesuatu mereka berlomba-lomba untuk menunaikannya, sebaliknya ketika turun ayat yang melarang sesuatu mereka juga berlomba-lomba untuk meninggalkannya.
  3. Pelajaran berharga bahwa seperti inilah kewajiban seorang mukmin ketika sampai kepadanya sesuatu yang berasal dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, maka ia bersegera menunaikannya, baik yang bersangkutan dengan kewajiban maupun larangan.
  4. Bersedekah itu sesuai kemampuan, jangan khawatir besar kecilnya, tetapi perhatikan niat tulus dan keikhlasan di dalamnya, karena hanya Allah Ta’ala yang dapat memberikan pahala dan anugerah yang besar serta hanya Dia Yang Maha Pemurah membalas semua kebajikan den kebaikan itu dengan sempurna.
  5. Penjelasan yang sangat penting bahwa Allah Ta’ala selalu menolong orang-orang mukmin, sebagaimana Allah Ta’ala menurunkan ayat untuk menolong kaum mukmin dari celaan orang-orang munafik.
  6. Kerasnya permusuhan orang-orang munafik terhadap orang-orang beriman, tidak ada yang selamat dari celaan dan makian mereka, sedekah banyak dicaci apalagi sedikit, tetapi hal ini diserahkan kepada Allah Ta’ala bukan kepada mereka. Oleh karena itu, Allah Yang Mahamulia menghinakan dan mengancam mereka dan mengancam dengan siksa yang pedih, “Dan untuk mereka adzab yang pedih.”

Wallahu Ta’ala A’lam.

Referensi Utama: Syarah Riyadhus Shalihin karya Syaikh Shalih al Utsaimin, & Kitab Bahjatun Naazhiriin Syarh Riyaadhish Shaalihiin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaliy.


Yuk dukung operasional & pengembangan dakwah Bimbingan Islam, bagikan juga faedah hadist ini kepada kerabat dan teman-teman.

Demi Allah, jika Allah memberi hidayah kepada satu orang dengan sebab perantara dirimu, hal itu lebih baik bagimu daripada unta-unta merah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

*unta merah adalah harta yang paling istimewa di kalangan orang Arab kala itu (di masa Nabi ).

Wallahu a’lam
Wabillahittaufiq

Repost From: Semangat Para Sahabat Nabi Dalam Bersedekah


Disusun oleh:
Ustadz Fadly Gugul حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini