▪️ Senin, 29 Sya’ban 1442 H | 12 April 2021 M
👤 Ustadz Abul Aswad Al Bayaty hafizhahullah
📗 Tematik | Pembahasan Buku Fiqih Ramadhan – Meniti Hari Di Bulan Suci
🔊 Sesi Ke-22 | Bab 21 – Malam Seribu Bulan



Semua kita mendengar, mengenal dan sangat familiar dengan malam Lailatul Qadar atau malam yang keutamaannya melebihi seribu bulan. Keutamaan malam ini sangat agung, karena ia merupakan malam turunnya Al-Qur’an yang kelak akan menuntun setiap orang yang berpegang teguh dengannya menuju jalan kemuliaan dan kejayaan. Demikian pula ia akan mengangkat seseorang menuju kepada puncak kemuliaan serta keabadian. Dan kaum muslimin saling berlomba-lomba di malam ini unuk mendapatkan kebaikan, keberkahan, kemuliaan serta limpahan pahala yang tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan apapun di dunia ini.

a). Keutamaan Malam Seribu Bulan.

Allah ta’ala berfirman :

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5(

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada Lailatul Qadr. Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadr itu? Lailatul Qadr itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Ar-Ruh dengan izin Tuhannya untuk mengatur urusan. Malam itu (penuh) Salaam sampai terbit fajar”. (QS. Al-Qadr : 1-5).

b). Apakah Lailatul Qadar masih ada.

Imam Ibnu Utsaimin berkata :

الصحيح بلا شك أنها باقية، وما ورد في الحديث أنها رفعت، فالمراد رفع علم عينها في تلك السنة؛ لأن النبي صلّى الله عليه وسلّم رآها ثم خرج ليخبر بها أصحابه فتلاحى رجلان فرفعت، هكذا جاء الحديث.

“Yang benar dengan tanpa ada keraguan sama sekali bahwa lailatul qadar itu masih ada (masih berlangsung). Dan apa yang disebutkan di dalam hadits bahwa ia telah diangkat, maka maksudnya adalah diangkatnya pengetahuan tentang keberadaan lailatul qadar di tahun tersebut.

Karena Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya kemudian beliau keluar untuk memberitahukannya kepada para sahabatnya, lantas dua orang lelaki merengek-rengek maka diangkatlah lailatul qadar (tidak ada yang tahu lagi setelahnya) seperti inilah maksud haditsnya”. [ (Asy Syarhul Mumti’ : 6/490).]

c). Kapan malam lailatul qadar

Imam At-Tirmidzi menuturkan :

وَرُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ أَنَّهَا لَيْلَةُ إِحْدَى وَعِشْرِينَ وَلَيْلَةُ ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ وَخَمْسٍ وَعِشْرِينَ وَسَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَتِسْعٍ وَعِشْرِينَ وَآخِرُ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ

“Dan diriwayatkan dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tentang lailatul qadar bahwasanya ia adalah malam yang ke 21, dan malam 23, 25, 27, 29 dan malam terakhir di bulan ramadhan”. [ (Shahih Sunan At-Tirmidzi : 1/416 di bawah hadis no. 792).]

Pendapat yang rajih/yang benar bahwa malam lailatul qadar ini ada di malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, dan ia berpindah-pindah setiap tahunnya dan sangat sulit untuk bisa dipastikan keberadaanya. Imam Ibnu Utsaimin merajihkan pendapat ini, beliau berujar :

والصحيح أنها تتنقّل فتكون عاماً ليلة إحدى وعشرين، وعاماً ليلة تسع وعشرين، وعاماً ليلة خمس وعشرين، وعاماً ليلة أربع وعشرين، وهكذا؛ لأنه لا يمكن جمع الأحاديث الواردة إلا على هذا القول، لكن أرجى الليالي ليلة سبع وعشرين، ولا تتعين فيها كما يظنه بعض الناس، فيبني على ظنه هذا، أن يجتهد فيها كثيراً ويفتر فيما سواها من الليالي.

“Yang benar bahwa Lailatul Qadar itu berpindah-pindah, ia ada dimalam ke-21 di sebuah tahun, lalu ada di malam ke 23 di tahun yang lain, lalu ada di malam ke-25 di tahun yang lain, dan ada di malam ke-24 di tahun yang lain, demikian kondisinya. Karena tidak mungkin menggabungkan banyak hadits tentang lailatul qadar ini melainkan dengan pendapat ini.

Akan tetapi yang paling kuat kemungkinannya adalah malam ke-27. Dan tidak bisa dipastikan sebagaimana yang disangka oleh sebagian manusia, lantas berdasarkan persangkaannya ini ia kemudian bersungguh-sungguh di malam ke-27 dan bermalas-malasan di malam-malam lainnya”.

[ (Asy-Syarhul Mumti’ : 6/492).]

c). Banyaknya malaikat di malam Lailatul Qadar.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata dari nabi shalallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda :

إِنَّهَا لَيْلَةُ سَابِعَةٍ أَوْ تَاسِعَةٍ وَعِشْرِينَ ، إِنَّ الْمَلائِكَةَ تِلْكَ اللَّيْلَةَ فِي الأَرْضِ أَكْثَرُ مِنْ عَدَدِ الْحَصَى

“Sesungguhnya lailatul qadar itu malam ke-27 dan ke-29, sesungguhnya malaikat pada malam itu jumlahnya lebih banyak dari jumlah kerikil”. [ (HR Ahmad : 10316 dishahihkan oleh Imam Al-Albani dalam Shahihul Jami’ : 5472).]

d). Memperbanyak doa di malam lailatul qadar.

Saking banyaknya malaikat, keberkahan, kebaikan dan rahmat yang melimpah di malam tersebut, maka kita disunnahkan untuk banyak beribadah dan banyak berdoa. Utamanya doa khusus yang diajarkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anhu ia berkata ;

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا ؟ قَالَ : قُولِي اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ )كَرِيمٌ( تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Aku bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam : ‘Apa pendapat engkau jika aku melihat Lailatul Qadar, apa yang harus aku ucapkan di dalamnya?’. Beliau menjawab : ‘Ucapkanlah olehmu ;

ALLOHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU ‘ANNII (Setelah “Afuwwun” tidak menggunakan “Kariim”-pen).

Artinya ; Ya Allah sesungguhnya Engkkau adalah maha pengampun, Engkau mencintai kemaafan maka maafkanlah aku”. [ (HR Tirmidzi : 3513 dishahihkan oleh Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar : 247 dan Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam I’lamul Muwaqqi’un : 4/249).]

Hanya saja tambahan ‘Kariim’ pada doa tersebut tidak sah dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Disebutkan dalam kitab Taraju’at Imam Al-Albani peringatan sbb :

تنبيه: وقع في سنن الترمذي بعد قوله: (عفو) زيادة (كريم) ! ولا أصل لها في شيء من المصادر المتقدمة، ولا في غيرها ممن نقل عنها

“Peringatan ; ada tersebut di dalam Sunan Tirmidzi setelah sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ‘Afuwwun’ ada tambahan ‘Kariim’ ! Tambahan ini tidak ada asalnya sama sekali dalam referensi-referensi yang valid tidak pula ada di lokasi lain dari para ulama yang manukilnya.” [ (Taroju’at Imam Al-Albani : 1/31 oleh Syaikh Abul Hasan Asy-Syaikh)]

e). Ciri Lailatul Qadar.

Imam Ibnu Utsaimin berkata menerangkan tanda serta ciri lailatul qadar :

1. Terangnya cahaya di malam itu, tanda ini di zaman ini tidak bisa dirasakan kecuali orang yang berada di daratan yang jauh dari cahaya lampu.

2. Malam itu terasa tenang, maksudnya ketenangan hati dan kelapangan dada orang-orang yang beriman. Karena mereka merasakan ketenangan dan ketentraman dan kelapangan dada itu durasakan lebih dibanding malam-malam lainnya.

3. Sebagian ahli ilmu berkata ; angin di malam itu berhembus tenang, tidak ada badai dan cuaca terasa cerah.

4. Bahwa Allah terkadang memperlihatkan lailatul qadar dalam mimpi sebagaimana yang pernah dialami oleh sebagian para sahabat.

5. Manusia di malam tersebut merasakan kelezatan shalat dan semangat yang lebih di bandingkan malam-malam lainnya. [ (Asy-Syarhul Mumti’ : 6/496-497).]

Wallahu a’lam

____

Salurkan Donasi Terbaik Anda ke:

| Bank Syariah Mandiri (BSM)
| Kode Bank: 451
| No. Rekening: 7814 5000 84
| Atas Nama: Cinta Sedekah (PROGRAM DAI)

📱 Official Sosial Media Yayasan Cinta Sedekah
fb.com/CSPeduli
instagram.com/CSPeduli
youtube.com/c/CSPeduli
t.me/CSPeduli
twitter.com/CSPeduli

📜 Layanan CS :
cintasedekah.org/kalkulator-zakat
bit.ly/jadwalkajianapp
cintasedekah.org/aplikasi-cinta-sehat
🌏 https://cintasedekah.org/donasi