▪️ Selasa, 01 Ramadhan 1442 H | 13 April 2021 M
👤 Ustadz Abul Aswad Al Bayaty hafizhahullah
📗 Tematik | Pembahasan Buku Fiqih Ramadhan – Meniti Hari Di Bulan Suci
🔊 Sesi Ke-23 | Bab 22 – I’tikaf



1). Makna i’tikaf.

Syaikh Muhammad bin Ali bin Adam Al-Etsyubi berkata :

الاعتكاف في اللغة : هو الحبس، واللزوم، والمكث، والاستقامة، والاستدارة. وفي الشرع: هو المكث في المسجد من شخص مخصوص بصفة مخصوصة

“I’tikaf secara bahasa maknanya menahan diri, melazimi, berdiam diri, istiqamah, berkutat.
Sedangkan menurut istilah syariat i’tikaf bermakna berdiam diri di mesjid dari seorang yang khusus dengan tata cara khusus”. [ (Dzakhiratul ‘Uqba Fi Syarhil Mujtaba : 8/680).]

Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Halabi berkata :

اعلم أن للاعتكاف معنين لغويا وشرعيا أما اللغوي فهو الإقامة عكف بالمكان إذا أقام فيها والمعكوف المحبوس والشرعي فهو المكث في المسجد على سبيل القربة من شخص مخصوص بصفة مخصوصة

“Ketahuilah bahwasanya I’tikaf itu memiliki dua makna, secara bahasa dan secara istilah syariat. Adapun I’tikaf secara bahasa artinya tinggal, seseorang disebut beri’tikaf di lokasi tertentu jika ia tinggal di situ, yang dii’tikafi artinya yang didiami. Adapun secara istilah syariat I’tikaf artinya tinggal di masjid demi untuk mendekatkan diri kepada Allah yang dilakukan orang tertentu dengan tata cara khusus”. [ (Al-Inshaf Li Ahkamil I’tikaf : 5).]

Adapun maksud dan tujuan utama dari iktikaf adalah sebagaimana yang telah dituliskan oleh Imam Al-Laknuwi Al-Hindi sebagai berikut :

وشرع لهم الاعتكاف الذي مقصوده وروحه عكوف القلب على الله تعالى وجمعيته عليه، والخلوة به عن الاشتغال بالخلق، والاشتغال به وحده -سبحانه-؛ بحيث يصير ذكره، وحبه، والإقبال عليه في محل هموم القلب وخطراته؛ فيستولي عليه بدلها، ويصير الهم كله به، والخطرات كلها بذكره، والتفكر في تحصيل مراضيه، وما يقرب منه؛ فيصير أنسه بالله بدلا عن أنسه بالخلق؛ فيعده بذلك لأنسه به يوم الوحشة في القبور حين لا أنيس له، ولا ما يفرح به سواه؛ فهذا مقصود الاعتكاف الأعظم

“Disyariatkan I’tikaf bagi mereka yang mana maksud dan ruh dari I’tikaf ini adalah menenangkan hati untuk Allah, membersamai-Nya, menyendiri dengan-Nya dan memutus hubungan dengan makhluk untuk kemudian menyibukkan diri dengan Allah semata.
Hingga aktifitas menyebut asma Allah, mencintai Allah dan menerima Allah menjadi obat bagi kesedihan hati. Sampai kecintaan terhadap Allah ini menggantikan posisi kesedihan di dalam hati.
Kesedihan hati hilang dengan Allah, dan kegundahan hati hilang dengan mengingat Allah. Serta bertafakur untuk meraih keridhaan Allah, dan meraih segala hal yang mendekatkan diri kepada Allah.
Sampai pada taraf seseorang lebih merasa senang dan nyaman dengan Allah dari pada nyaman dengan makhluk.
Hingga kelak ia akan merasa nyaman dengan Allah di alam kubur ketika tak ada kawan serta tak ada yang membuatnya nyaman melainkan Allah. Ini adalah maksud agung dari disyariatkannya I’tikaf” [ (Zadul Ma’ad : 2/86-87, lihat pula Al-Inshaf Fi Hukmil I’tikaf : 7 oleh Imam Al-Laknuwi Al-Hindi).]

2). Hukum I’tikaf.

I’tikaf ini sunnah hukumnya dan dianjurkan di hari apa saja, namun lebih ditekankan untuk dilakukan pada hari-hari di bulan Ramadhan. Dan yang paling utama adalah i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Allah ta’ala berfirman :

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

“Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid”.
(QS Al-Baqarah : 187).

Disebutkan pula dalam riwayat yang shahih

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانٍ عَشْرَةَ أَيَّامٍ فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا

“Adalah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf setiap bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Dan ketika berada di tahun beliau wafat, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari”. [ (HR Bukhari : 2044, Muslim : 1172).]

Imam An-Nawawi berkata menerangkan hukum dari i’tikaf ini dan menegaskan akan kesepakatan para ulama tentangnya :

الاعتكاف سنة بالإجماع، ولا يجب إلا بالنذر بالإجماع، ويستحب الإكثار منه، ويستحب ويتأكد استحبابه في العشر الأواخر من شهر رمضان

“I’tikaf itu sunnah hukumnya secara ijma’. Dan tidak wajib melainkan jika diniatkan karena nadzar. Dan disunnahkan untuk memperbanyak i’tikaf dan ditekankan lagi kesunnahan I’tikaf ini untuk dilakukan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan”. [ (Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab : 6/475).]

Sehingga jika seseorang bernadzar ingin melaksanakan i’tikaf di masjid, ketika itulah I’tikaf menjadi wajib atasnya sebagaimana riwayat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berikut ini :

يَا رَسُولَ اللَّهِ , إِنِّي نَذَرْتُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ أَنْ أَعْتَكِفَ لَيْلَةً فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” أَوْفِ بِنَذْرِكَ ”

“Wahai Rasulullah sesungguhnya aku memiliki nadzar di zaman jahiliyah untuk beri’tikaf semalam di masjidil Haram. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, ‘Tepatilah nadzarmu”. [ (HR Bukhari : 4/237, Muslim : 1656).]

3). Hikmah I’tikaf.

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali menuturkan hikmah di balik pensyariatan I’tikaf ini :

معنى الاعتكاف وحقيقته: قطع العلائق عن الخلائق للاتصال بخدمة الخالق، وكلمَّا قويت المعرفة بالله، والمحبَّة له، والأنس به أورثتْ صاحبَها الانقطاعَ إلى الله – تعالى – بالكلية على كلِّ حال

“Makna I’tikaf dan hakikatnya ialah memutus hubungan dengan makhluk demi untuk berkhidmat kepada sang Khaliq. Setiap kali menguat ma’rifatullah serta kecintaan kepada Allah, dan juga rasa nyaman dengan Allah, itu semua akan memberikan efek kepada pelakunya berupa ketergantungan/keterkaitan dengan Allah dalam segala situasi”. [ (Latha’iful Ma’arif : 203).]

Wallahu a’lam

____

Salurkan Donasi Terbaik Anda ke:

| Bank Syariah Mandiri (BSM)
| Kode Bank: 451
| No. Rekening: 7814 5000 84
| Atas Nama: Cinta Sedekah (PROGRAM DAI)

📱 Official Sosial Media Yayasan Cinta Sedekah
fb.com/CSPeduli
instagram.com/CSPeduli
youtube.com/c/CSPeduli
t.me/CSPeduli
twitter.com/CSPeduli

📜 Layanan CS :
cintasedekah.org/kalkulator-zakat
bit.ly/jadwalkajianapp
cintasedekah.org/aplikasi-cinta-sehat
🌏 https://cintasedekah.org/donasi