Pengantar

Software ini disediakan oleh Yayasan Cinta Sedekah, sebagai sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang sosial dan dakwah Ahlussunnah wal Jama’ah bekerjasama dengan Bimbingan Islam dalam mengembangkan aplikasi Zakaty (kalkulator zakat).

Delapan Golongan Penerima Zakat

Orang-Orang Fakir Diriwayatkan dari Ibnu ‘Amr Radhiyallahu anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

لاَ تَحِلُّ الصَّدَقََةُ لِغَنِيٍّ وَلاَ لِذِى مِرَّةٍ سَوِيٍّ.

“Zakat tidak halal diberikan kepada orang kaya dan mereka yang memiliki kekuatan untuk bekerja.” [Shahih: [Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 7251)], Sunan at-Tirmidzi (II/81, no. 647), Sunan Abi Dawud (V/42, no. 1617), dan diriwayatkan dari Abu Hurairah z: Sunan Ibni Majah (I/589, no. 1839), Sunan an-Nasa-i (V/99).]

Dari ‘Ubaidillah bin ‘Adi bin al-Khiyar bahwa ada dua orang yang telah bercerita kepadanya bahwa mereka telah menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta zakat kepada beliau. Kemudian beliau memperhatikan mereka dan beliau melihat mereka masih kuat, lalu beliau bersabda:

إِنْ شِئْتُمَا أَعْطَيْتُكُمَا وَلاَ حَظَّ فِيْهَا لِغَنِيٍّ وَ لاَ لِقَوِيٍّ مُكْتَسِبٍ.

“Jika kalian mau aku akan berikan kalian zakat, namun tidak ada zakat bagi orang kaya dan mereka yang masih kuat untuk bekerja.” [Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 1438)], Sunan Abi Dawud (V/41, no. 1617), Sunan an-Nasa-i (V/99)]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

لَيْسَ الْمِسْكِيْنُ بِهَذَا الطَّوَافِ الَّذِي يَطُوْفُ عَلَى النَّاسِ, فَتَرُدُّهُ اللُّقْمَةُ وَاللُّقْمَتَانِ, وَالتَّمْرَةُ وَالتَّمْرَتَانِ, قَالُوْا فَمَا الْمِسْكِيْنُ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: اَلَّذِي لاَيَجِدُ غِنًى يُغْنِيْهِ, وَلاَ يُفْطَنُ لَهُ فَيُتَصَدَّقُ عَلَيْهِ, وَلاَ يَسْأَلُ النَّاسَ.

“Bukanlah termasuk orang miskin mereka yang keliling meminta-minta kepada manusia, kemudian hanya dengan sesuap atau dua suap makanan dan satu atau dua buah kurma ia kembali pulang.” Para Sahabat bertanya, “Kalau begitu siapakah yang dikatakan sebagai orang miskin, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang miskin adalah orang yang tidak mempunyai sesuatu yang bisa mencukupi kebutuhannya. Namun tidak ada yang mengetahui keadaannya sehingga ada yang mau memberinya sedekah dan ia juga tidak meminta-minta kepada manusia.” [Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih Muslim II/719, no. 1039), dan ini adalah lafazhnya, Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari III/341, no. 1479), Sunan an-Nasa-i (V/75), Sunan Abi Dawud (V/39, no. 1615)]

Mereka adalah petugas yang mengumpulkan dan menarik zakat, mereka berhak menerima sejumlah harta zakat sebagai ganjaran atas kerja mereka dan tidak boleh mereka termasuk dari keluarga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diharamkan atas mereka memakan sedekah, sebagaimana yang diriwayatkan dalam Shahiih Muslim dari ‘Abdul Muththalib bin Rabi’ah bin al-Harits, bahwasanya ia dan al-Fadhl bin al-‘Abbas pergi menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta agar mereka berdua dijadikan sebagai amil zakat, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الصَّدَقَةَ لاَتَحِلُّ لِمُحَمَّدٍ وَلاَ ِلآلِ مُحَمَّدٍ, إِنَّمَا هِيَ أَوْسَاخُ النَّاسِ.

“Sesungguhnya zakat itu tidak halal bagi Muhammad dan keluarga Muhammad, karena ia sebenarnya adalah kotoran manusia.” [Shahih: [Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 1664)], Shahiih Muslim (II/752, no. 1072), Sunan Abi Dawud (VII/205, no. 2969), Sunan an-Nasa-i (V/105). Berkata an-Nawawi, “Yang dimaksud dengan ausaakhun naas, bahwasanya zakat tersebut sebagai pembersih dan pensuci bagi harta dan jiwa mereka, sebagaimana firman Allah, ‘Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.’ Maka, zakat tersebut ibarat alat pencuci kotoran.” (Shahiih Muslim Syarah an-Nawawi (VII/251), cet. Qurthubah)]

Mereka ada beberapa macam. Ada yang diberikan harta zakat agar mereka masuk Islam, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan Shafwan bin Umayyah harta dari hasil rampasan perang Hunain, dan dia ikut berperang dalam keadaan masih musyrik, ia bercerita, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak henti-hentinya memberiku harta rampasan hingga akhirnya beliau menjadi manusia yang paling aku cintai, padahal sebelum itu beliau adalah manusia yang paling aku benci.” [Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 1588)], Shahiih Muslim (II/754, no. 1072 (168)), Sunan Abi Dawud (VIII/205-208, no. 2969), Sunan an-Nasa-i (V/ 105-106)]

Dan di antara mereka ada yang sengaja diberikan harta zakat agar mereka semakin bagus keislamannya dan semakin kuat hatinya dalam Islam, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salla ketika perang Hunain, beliau memberikan seratus ekor unta kepada sekelompok pemuka kaum ath-Thulaqa’ (orang-orang kafir Quraisy yang tidak diperangi di saat penaklukan Makkah), kemu-dian beliau bersabda:

إِنِّي َلأُعْطِيَ الرَّجُلَ، وَغَيْرَهُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْهُ, خَشْيَةَ أَنْ يَكُبَّهُ اللهُ عَلَى وَجْهِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ.

“Sesungguhnya aku memberi (harta) pada seseorang, padahal yang lainnya lebih aku cintai daripadanya, hanya saja aku takut Allah akan memasukkannya ke dalam Neraka.” [Muttafaq ‘alaihi: Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/79, no. 27), Shahiih Muslim (I/132, no. 150), Sunan Abi Dawud (XII/440, no. 4659), Sunan an-Nasa-i (VIII/103)]

Dalam ash-Shahiihain diriwayatkan dari Abu Sa’id, bahwasanya ‘Ali menyerahkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam emas mentah batangan dari Yaman, kemudian beliau membagikannya kepada empat orang, al-Aqra’ bin Habis, ‘Uyainah bin Badar, ‘Alqamah bin ‘Ulatsah dan Zaid al-Khair, lalu beliau bersabda, “Aku ingin melunakkan hati mereka.” [Muttafaq ‘alaihi: Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (VIII/67, no. 4351), Sha-hiih Muslim (II/741, no. 1064), Sunan Abi Dawud (XIII/109, no. 4738)]

Di antara mereka ada yang diberikan zakat dengan maksud agar orang-orang yang seperti mereka ikut masuk Islam. Juga ada yang diberikan harta zakat supaya nantinya bisa mengumpulkan harta zakat dari orang-orang yang setelahnya atau untuk mencegah bahaya dari beberapa negeri terhadap kaum muslimin. Allaahu a’lam. Apakah harta zakat masih diberikan kepada orang-orang yang dilunakkan hatinya setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal ? Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Dalam masalah ini terjadi perbedaan pendapat: Diriwayatkan dari ‘Umar, ‘Amir, Sya’bi dan sejumlah ulama lainnya, bahwasanya mereka tidak diberikan harta zakat setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, karena Islam dan kaum muslimin telah jaya dan mereka telah menguasai beberapa negara, serta telah ditundukkan bagi mereka banyak kaum. Dan pendapat yang lain mengatakan bahwasanya mereka tetap berhak menerima zakat, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memberikan mereka zakat setelah penaklukan Makkah dan Hawazin. Dan perkara ini terkadang dibutuhkan sehingga harta zakat diberikan kepada mereka.”

Diriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri, Muqatil bin Hayyan, ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz, Sa’id bin Jubair, an-Nakha’i, az-Zuhri dan Ibnu Zaid mereka berpendapat bahwa yang dimaksud dengan budak adalah al-Mukatab (budak yang telah mengadakan perjanjian dengan tuannya untuk membayar sejumlah uang sebagai tebusan atas dirinya). Hal ini juga diriwayatkan dari Abu Musa al-‘Asyari. Dan ini adalah pendapat Imam asy-Syafi’i juga al-Laitsi. Berkata Ibnu ‘Abbas dan al-Hasan, “Tidak mengapa harta zakat tersebut dijadikan sebagai tebusan untuk memerdekakan budak.” Dan ini adalah madzhab Ahmad, Malik dan Ishaq. Maksudnya bahwa memberikan zakat kepada budak sifatnya lebih umum dari sekedar memerdekakan al-Mukatab atau membeli budak, kemudian memerdekakannya. Banyak sekali hadits-hadits yang menerangkan tentang pahala orang-orang yang memerdekakan budak. Dan sesungguhnya Allah akan membebaskan dari api Neraka anggota badan orang yang memerdekakan budak sebagai ganjaran dari anggota badan budak yang ia merdekakan, hingga kemaluan dengan kemaluan [Shahih: [Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 6051)]. Diriwayatkan oleh at-Tir-midzi dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu ia berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَنِ اعْتَقَ رَقَبَةً مُؤْمِنَةً أَعْتَقَ اللهُ مِنْهُ بِكُلِّ عُضْوٍ مِنْهُ عُضْوًا مِنَ النَّارِ حَتَّى يَعْتِقَ فَرْجَهُ بِفَرْجِهِ. “Barangsiapa yang memerdekakan seorang budak yang beriman niscaya Allah akan memerdekakan dengannya (anggota badan budak) setiap anggota badan orang yang memerdekakannya dari api Neraka sampai kemaluannya dengan kemaluannya.” (III/49, no. 1541)].

Hal ini semua karena balasan dari suatu amalan se-suai dengan jenis amalan tersebut:

وَمَا تُجْزَوْنَ إِلاَّ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ.

“Dan tidaklah kalian diberi ganjaran kecuali sesuai dengan amalan yang kalian kerjakan.”

Mereka ada beberapa jenis, ada yang menanggung hutang orang lain dan manakala telah sampai waktu pembayaran ia menggunakan hartanya untuk melunasinya sehingga hartanya habis, ada yang tidak bisa melunasi hutangnya, ada yang merugi karena kemaksiatan yang diperbuat kemudian dia bertaubat, mereka inilah yang berhak menerima zakat. Dalil dalam masalah ini adalah hadits Qabishah bin Mukhariq al-Hilali, ia berkata, “Aku sedang menanggung hutang orang lain, kemudian aku mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta bantuan beliau, beliau berkata, “Tunggulah, jika ada zakat yang kami dapatkan kami akan menyerahkannya kepadamu.”

Selanjutnya beliau bersabda:

يَا قَبِيْصَةُ , إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لاَتَحِلُّ إِلاَّ ِلأَحَدِ ثَلاَثَةٍ: رَجُلٌ تَحَمَّلَ حَمَالَةً فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيْبَهَا ثُمَّ يُمْسِِكَ, وَرَجُلٌ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ اِجْتَاحَتْ مَالَهُ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ, حَتَّى يُصِيْبَ قِوَاماً مِنْ عَيْشٍ أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ, وَرَجُلٌ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ حَتَّى يَقُوْمَ ثَلاَثَةٌ مِنْ ذَوِى الْحِجَا مِنْ قَوْمِهِ: لَقَدْ أَصَابَتْ فُلاَنًا فَاقَةٌ, فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ, حَتَّى يُصِيْبَ قِوَاماً مِنْ عَيْشٍ أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ, فَمَا سِوَاهُنَّ مِنَ الْمَسْأَلَةِ يَا قَبيْصَةُ ! سُحْتًا يَأْكُلُهَا صَاحِبُهَا سُحْتًا.

“Wahai Qabishah, sesungguhnya meminta-minta tidak dihalalkan kecuali bagi salah satu dari tiga orang, yaitu orang yang menanggung hutang orang lain, maka ia boleh meminta-minta sampai ia melunasinya, kemudian ia berhenti meminta-minta, orang yang ditimpa musibah yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta-minta sampai mendapatkan sandaran hidup atau beliau berkata, sesuatu yang bisa memenuhi kebutuhan hidupnya, dan orang yang ditimpa kesengsaraan hidup sampai tiga orang dari kaumnya yang berpengetahuan (alim) berkata, ‘Si fulan telah ditimpa kesengsaraan hidup.’ Ia boleh meminta-minta sampai mendapatkan sandaran hidup atau beliau berkata: Sesuatu yang bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Adapun selain tiga golongan tersebut, wahai Qabishah, maka haram hukumnya dan mereka yang memakannya adalah memakan makanan yang haram.’” [Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 568)], Shahiih Muslim (II/722, no. 1044), Sunan Abi Dawud (V/49, no. 1624), Sunan an-Nasa-i (V/96). Dan termasuk dari zawil hija orang yang berakal dan pintar] Referensi: https://almanhaj.or.id/914-golongan-yang-berhak-menerima-zakat.html

Mereka adalah para pasukan perang yang tidak punya hak dari baitul mal. Adapun Imam Ahmad, al-Hasan dan Ishaq mengatakan bahwa orang yang berhaji termasuk dalam fii sabilillaah, ber-dasarkan sebuah hadits. Saya (penulis) berkata, “Yang mereka maksud dengan hadits adalah hadits Ibnu ‘Abbas, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin menunaikan haji dan ada seorang isteri yang berkata kepada suaminya, ‘Sertakanlah aku berhaji bersama Rasulullah.’ Suami tersebut menjawab, ‘Aku tidak memiliki harta yang bisa kugunakan untuk membiayaimu pergi haji.’ Lalu isterinya berkata, ‘Hajikanlah aku dengan untamu itu.’ Dia berkata, ‘Itu adalah unta yang aku gunakan untuk berjuang di jalan Allah.’ Kemudian lelaki tersebut datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya isteriku mengucapkan salam atasmu dan ia telah memintaku untuk menghajikannya bersamamu, ia berkata, ‘Hajikanlah aku bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Lalu aku menjawab, ‘Sesungguhnya aku tidak memiliki harta yang akan kugunakan untuk membia-yaimu pergi haji.’ Ia berkata lagi, ‘Kalau begitu hajikanlah aku dengan untamu itu.’ Aku berkata kepadanya, ‘Itu adalah unta yang aku gunakan untuk berjuang di jalan Allah.’’ Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya jika engkau menghajikan ia dengan unta tersebut juga termasuk dalam fii sabilillaah.’” [Hasan shahih: [Shahih Sunan Abi Dawud (no. 1753)], Sunan Abi Dawud (V/465, no. 19740), Mustadrak al-Hakim (I/183), al-Baihaqi (VI/164)]

Dia adalah musafir yang berada di suatu negeri dan tidak memiliki sesuatu apa pun yang bisa membantunya dalam perjalanan, maka ia diberikan dari harta zakat secukupnya yang bisa diguna-kan untuk pulang kampung, walaupun mungkin dia memiliki sedikit harta. Dan hukum ini berlaku bagi mereka yang melakukan perjalanan jauh dari negerinya dan tidak ada sesuatu apa pun bersamanya, maka ia diberikan sejumlah harta dari zakat yang bisa mencukupinya untuk bekal pulang pergi. Dan dalilnya adalah ayat tentang golongan yang berhak menerima zakat, juga apa yang diri-wayatkan oleh Imam Abu Dawud, Ibnu Majah dari hadits Ma’mar dari Yazid bin Aslam, dari ‘Atha’ bin Yasar, dari Abu Sa’id Radhiyallahu anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَحِلُّ الصَّدَقَةُ لِغَنِيٍّ إِلاَّ خَمْسَةٍ: اَلْعَامِلُ عَلَيْهَا أَوْ رَجُلٌ اِشْتَرَاهَا بِمَالِهِ أَوْ غَارِمٌ اَوْ غَازٍ فِي سَبِيْلِ اللهِ أَوْ مِسْكِيْنٌ تُصُدِّقَ عَلَيْهِ فَأَهْدَى مِنْهَا لِغَنِيٍّ.

“Zakat itu tidak halal diberikan kepada orang kaya kecuali lima macam, yaitu amil zakat atau orang yang membelinya dengan hartanya atau orang yang berhutang atau orang yang berperang di jalan Allah atau orang miskin yang menerima zakat, kemudian dia menghadiahkannya kepada orang kaya.”[Shahih: [Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 725)], Sunan Abi Dawud (V/44, no. 1619), Sunan Ibni Majah (I/590, no. 1841)]

Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِّنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk _orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekaan) budak, orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan_ , sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (QS At-Taubah : 60)

GOLONGAN YANG BERHAK MENERIMA ZAKAT

Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi

https://almanhaj.or.id/914-golongan-yang-berhak-menerima-zakat.html

Syarat – Syarat Zakat

Zakat mal ini hanya wajib ditunaikan oleh orang islam, adapun orang kafir mereka tidak memiliki kewajiban membayar zakat. Allah ta’ala berfirman :

وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ

“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.”
(QS. At-Taubah : 54).

Kewajiban zakat ini dikuatkan pula oleh pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengutus Mu’adz bin Jabal radhiyallahu anhu ke Yaman beliau bertutur :

إِنّكَ تَأْتِي قَوْما مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ، فَادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاّ الله وَأَنّي رَسُولُ اللّهِ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنّ الله افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنّ الله افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدّ فِي فُقَرَائِهِمْ

“Sesungguhnya engkau akan mendatangi satu kaum dari golongan Ahli Kitab, maka serulah mereka untuk bersyahadat bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah melainkan Allah dan bahwasanya aku (Muhammad) adalah utusan Allah.

Jika mereka mematuhimu dalam hal itu, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka lima shalat di setiap hari dan malam. Jika mereka mematuhimu dalam hal itu, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka sedekah (zakat) yang diambil dari orang-orang kaya mereka dan disalurkan kepada orang-orang fakir mereka.” [ (HR Bukhari : 4347, Muslim : 19).]

Zakat mal ini tidak dibebankan kepada hamba sahaya/budak. Karena ia tidak memiliki harta. Semua hartanya adalah harta majikan atau tuannya. Dari Abdullah bin Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata :

وَمَنِ ابْتَاعَ عَبْداً وَلَهُ مَالٌ فَمَالُهُ لِلَّذِيْ بَاعَهُ إِلاَّ أَنْ يَشْتَرِطَ الْمُبْتَاعُ

“Barangsiapa yang membeli budak yang memiliki harta maka hartanya milik penjual kecuali pembeli mensyaratkannya. [ (HR. Muslim : 1543).]

Nishab ialah batasan minimal harta yang sudah wajib dizakati. Nishab dari harta ini berbeda sesuai dengan jenis hartanya. Namun kita hanya akan sampaikan nishab yang menjadi standard dalam zakat emas, perak, uang dan barang dagangan. Ketiga jenis harta ini menggunakan nishabnya emas.
Dan besaran nishab dari emas ialah dua puluh dinar atau setara dengan 85 gr emas. Sedangkan nishabnya perak ialah 5 ‘Uqiyah atau 200 dirham atau setara dengan 595 gr perak. [ (Lihat Shahih Fiqih Sunnah : 2/17-18, Mausu’ah Fiqhiyyah Muyassarah : 3/35-37).]

Maka tidak perlu dizakati harta yang berupa mahar/mas kawin dari seorang istri yang belum melakukan hubungan suami istri dengan suaminya. Karena jika kemudian ia bercerai mahar ini dikembalikan kepada suami, sehingga si istri belum memiliki hak penuh terhadap mahar tersebut sampai ia melakukan hubungan suami istri.

Demikian pula jika seorang budak mengatakan kepada tuannya ; Aku ingin membeli diriku sendiri dengan 200 dinar. Harta ini tidak wajib dizakati karena bisa jadi si hamba sahaya ini ternyata tidak mampu menyediakan 200 dinar. Sehingga tidak terpenuhi syarat Istiqrarul Milki. [ (Lihat Ibhajul Mukminin Syarah Manhajus Salikin : 1/288 Oleh Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin).]

Syarat ini disyariatkan berdasarkan hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersumber dari ‘Aisyah bintu Abi Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhuma ia berkata :

سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ : لاَ زَكَاةَ فِيْ مَالٍ حَتَّى يَحُوْلَ عَلَيْهِ الْحَوْلُ

Aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada zakat pada harta sampai ia berlalu melewati masa setahun lamanya”. [ (HR. Ibnu Majah : 1792 dishahihkan Imam Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah : 2/98).]

Pembahasan Buku Fiqih Ramadhan – Meniti Hari Di Bulan Yang Di Berkahi

Bab 27 – Zakat Mal

Ustadz Abul Aswad Al Bayaty hafizhahullah

Contoh cara menghitung zakat mal

Berikut kami cantumkan contoh kasus dalam penghitungan zakat untuk mempermudah kita di dalam memahami dan mengamalkannya insya’Allah.

Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim berkata :

مثال توضيحي: رجل يملك (1/ 2) كيلو جرام من الذهب عيار (24)، فما مقدار الزكاة فيه إذا حال عليه الحول؟
فنقول: بما أن مقدار الذهب والمملوك يعتبر أكثر من النصاب (85جم) فإنه يجب فيه ربع العشر، فيكون المقدار الواجب إخراجه = 500 جرامًا × 1/ 40 = 12.5 جرامًا.

“Contoh praktek penghitungan zakat : Seorang lelaki yang memiliki 0,5 kilogram (500gr) emas 24 karat. Berapa lantas zakat yang harus dikeluarkan darinya jika sudah tersimpan selama setahun?

Kita katakan karena ukuran emas dan harta yang dimiliki sudah mencapai lebih dari 85 gram, maka wajib dikeluarkan zakat 1/40 (2,5%). Maka zakat yang wajib dikeluarkan ialah 1/4×500 = 12,5 gr ”.[ (Shahih Fiqih Sunnah : 2/18).]

Demikian pula jika seseorang memiliki perak sebanyak 0,7 Kg atau 700 gr dan sudah tersimpan selama minimalnya satu tahun. Maka besar zakat yang harus di keluarkan ialah 1/40×700 = 17,5 gr.

Nishab uang dan barang dagangan ini memakai standard nishab emas. Uang yang ia miliki jika sudah setara atau lebih jika dibanding dengan harga emas 85 gr, maka ia harus dizakati 2,5%. Syaikh Shalih Al-Fauzam berkata :

مقدار النصاب من النقود اليوم يعتبر بالأصول يعتبر بالذهب والفضة

“Ukuran nishab untuk uang hari ini diukur dengan mata uang aslinya, diukur dengan nishabnya emas dan perak”. [ (Fatawa Syaikh Shalih Al-Fauzan no. 4474).] Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim berkata :

مثال توضيحي:
شخص يمتلك (2000) جنيه، وآخر يمتلك (100.000) جنيه فما مقدار الزكاة في مال كل منهما إذا حال عليهما الحول؟
والجواب:
نحتاج أولاً على أن نعرف مقدار النصاب -وهو نصاب الذهب كما تقدم [85 جرامًا] فإذا فرض أن ثمن الجرام من الذهب = (30) جنيهًا، فيكون النصاب = 85 × 30 = 2550 جنيه وبما أن ما يمتلكه الشخص الأول أقل من النصاب فلا زكاة عليه إلا أن يتصدق. وأما الشخص الآخر فيمتلك مبلغًا أكبر من النصاب فيجب عليه زكاة ربع العُشر. مقدار الزكاة = 100.000 × 1/40 = 2500 جنيه.

“Contoh kasus ; Seseorang memiliki uang sebanyak 2.000 Janih (nama mata uang-pent), kemudian orang kedua memiliki 100.000 Janih. Lantas berapa zakat untuk masing-masing keduanya jika sudah tersimpan selama setahun ?

Jawab : Kita perlu terlebih dahulu untuk mengetahui ukuran nishab emas. Dan nishab emas sebagaimana telah berlalu sebesar 85 gr. Apabila dianggap bahwa harga emas per gram-nya seharga 30 Janih. Maka nishab dari harta berupa uang 85 gr x 30 Janih = 2.550 Janih.

Dan ketika uang yang dimiliki orang pertama kurang dari nishab, maka tidak ada kewajiban zakat bagi dia kecuali jika ia ingin bersedekah. Adapun orang kedua ia memiliki jumlah uang yang melebihi nishab, maka wajib bagi dia membayar zakat 2,5% dari keseluruhan uang. Besaran zakat yang harus dibayarkan 1/40×100.000 = 2.500 Janih. [ (Shahih Fiqih Sunnah : 2/23).]

Demikian pula zakat barang dagangan, kita memperkirakan nilai barang dagangan yang sudah tersimpan setahun. Jika hasilnya melebihi nishab maka dibayarkan zakatnya 2,5%.

Pembahasan Buku Fiqih Ramadhan – Meniti Hari Di Bulan Yang Di Berkahi

Bab 27 – Zakat Mal

Ustadz Abul Aswad Al Bayaty hafizhahullah

Petunjuk Penggunaan:

  • Silahkan klik Menu Zakat ( Tombol warna biru )
  • Pilih Jenis Zakat yang ingin dihitung
  • Masukan kriteria nominal untuk menghitung Jenis Zakat yang ingin dihitung.

Informasi lebih lanjut, Whatsapp:
+62812-5000-160 (CS Info)
+6285233792279 (CS Sekretariat)

Barakallahu fiikum

Tanya Jawab Zakat

📝 MENJUAL SEBAGIAN EMAS UNTUK MEMBAYAR ZAKATNYA
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
🌾 Tanya Jawab
Grup Admin Bimbingan Islam T01-07

⏳ Pertanyaan ⏳

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه

Ustadz, saya memperoleh emas 24 karat 100 gram dari warisan dan telah menyimpannya selama satu tahun.

Apabila qadarullah saya tidak mempunyai uang untuk membayar zakatnya. Apa yang harus dilakukan? Apakah boleh menjual sedikit emasnya dulu lalu membayarkan zakat dari hasil penjualan emas tersebut?

Jazakallah khoyron.

(Dari Yanti, AdminT06)

⌛ Jawaban ⌛

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in.

Iya, boleh dijual kemudian dipakai untuk membayar zakatnya.

Wallohu A’lam
Wabillahit Taufiq.

Dijawab dengan ringkas oleh:
👤 Ustadz Abul Aswad Al Bayati, حفظه الله

📆 Jum’at, 23 Muharrom 1439 H /13 Oktober 2017M
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
🔎 Visit :
• https://bimbinganislam.com

📲 Gabung Yuk :
• http://tinyurl.com/biasqa
• bimbinganislam.com/facebook
• bimbinganislam.com/telegram
• bimbinganislam.com/youtube
• bimbinganislam.com/mixlr
• bimbinganislam.com/instagram

📝 BAGAIMANA CARA MENGHITUNG ZAKAT MAAL DAN ZAKAT PERDAGANGAN?

〰〰〰〰〰〰〰〰
🌿 Tanya Jawab
Grup WA Bimbingan Islam T05

📥 Pertanyaan 📥

بسم اللّه الرحمن الر حيم
السلام عليكم ورحمةالله وبركاته

Ustadz
Afwan…mengenai zakat harta, jika ada tabungan, bagaimana cara hitungnya?
Saya berdagang, modal yang tiap bulan diputar + tabungan .
Bagaimana cara menghitung zakatnya, ustadz?
Jazakallahu khairan.

(Fulanah, Sahabat BiAS T05 G-XX)

📥 Jawaban 📥

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Berarti anda berpotensi membayar 2 macam zakat, yaitu zakat maal dan zakat perdagangan.

Zakat maal yaitu jika anda memiliki harta senilai nishab 20 dinar atau senilai 85 gram emas, atau jika kurang dari itu namun telah sampai nishab rendah yaitu nishab 200 dirham atau 595 gram perak, dan telah sampai haul atau masa memiliki selama 1 tahun.

Silahkan baca anjuran dari Ust Sofyan di web http://www.bimbinganislam.com/konsultasi/27-fiqih/896-hukum-dan-penjelasan-zakat-maal

Kemudian zakat perdagangan,
Syarat dan ketentuannya:
1. Barang-barang yang menjadi obyek bisnis ini tidak termasuk barang yang asalnya wajib dizakati, seperti binatang ternak, emas, perak, dan sejenisnya. Karena menurut ijma’ para Ulama, dua macam kewajiban zakat tidak bisa berkumpul pada satu barang. Tetapi ia wajib mengeluarkan zakat barang-barang perdagangan itu –berdasarkan pendapat yang rajih-, karena zakat benda lebih kuat dalilnya daripada zakat perdagangan, karena telah terjadi ijma’ atas hal itu.
Barangsiapa memperdagangkan barang-barang di bawah nishab benda-benda tersebut , maka ia harus mengeluarkan zakat perniagaan.
(Al-Majmu’ karya imam an-Nawawi VI/50, dan al-Mughni karya Ibnu Qudamah III/34)

2. Mencapai nishab, yaitu seukuran nishab uang (atau sama dengan nilai 85 gram emas murni).

3. Barang-barang tersebut telah berputar selama satu tahun Hijriyyah.

4. Kewajiban zakat ini dikenakan pada perdagangan maupun perseroan.

5. Pada badan usaha yang berbentuk serikat, maka jika semua anggota serikat tersebut beragama Islam, zakat dikeluarkan lebih dulu sebelum dibagikan kepada pihak-pihak yang berserikat. Tetapi jika anggota serikat terdapat orang yang non muslim, maka zakat hanya dikeluarkan dari anggota serikat Muslim saja (jika jumlahnya telah mencapai nishab).

Rumus zakat perdagangan = [(Modal diputar + Keuntungan + Piutang yang dapat dicairkan) – (Hutang + Kerugian)] x 2.5%

Catatan: Jangan lupa bahwa mengeluarkan zakat perdagangan hanya jika kekayaan, yaitu modal dan keuntungan telah melebihi nishab yang ditentukan.

Wallohu A’lam
Wabillahit Taufiq

Dijawab dengan ringkas oleh :
👤 Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله

📆 Rabu, 15 Rabi’ul Awwal 1438 H / 14 Desember 2016 M

〰〰〰〰〰〰〰〰〰
🌐 http://bimbinganislam.com/
◽ Fanspage : Fb.com/Info.BimbinganIslam
🔎 Telegram Channel :
http://bit.ly/TanyaJawabBiAS

📝 APAKAH ZAKAT EMAS LOGAM MULIA SAMA DENGAN ZAKAT EMAS PERHIASAN?

〰〰〰〰〰〰〰〰〰
🌿 Tanya Jawab
Grup WA Bimbingan Islam T05

📥 Pertanyaan 📥

بسم اللّه الرحمن الر حيم
السلام عليكم ورحمةالله وبركاته

Apakah zakat emas logam mulia = zakat emas perhiasan?

Kedua, jika ada yang memiliki logam mulia yang selama 10 th tidak dizakati, bagaimanakah cara menghitung zakatnya?

Syukron.

(Fulanah, Sahabat BiAS T05)

📤 Jawaban 📤

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّه

Ia sama selama ia emas maka nishobnya sama.

Yang kedua, jika seseorang tidak menzakati hartanya karena ketidaktahun akan kewajiban tersebut, maka ia hanya membayar zakat sejak ia mengetahui kewajiban tersebut. Adapun tahun-tahun yang telah berlalu tidak mengapa tidak ia bayarkan zakatnya karena ia belum faham.

Imam Abdul Aziz bin Baz berkata menjawab pertanyaan serupa :

يجب عليك الزكاة من حين علمت وجوبها في الحلي ، وأما ما مضى قبل علمك فليس عليك زكاة ، لأن الأحكام الشرعية إنما تلزم بعد العلم

“Wajib bagi engkau membayar zakat perhiasan pada waktu engkau sudaj mengetahui kewajibannya. Adapun waktu yang telah berlalu sebelum engkau mengetahui kewajiban zakat maka tidak wajib engkau menzakatinya, karena hukum-hukum syariat berlaku setelah keberadaan ilmu.”

(Majmu’ Fatawa Syaikh Bin Baz : 14/111). Wallahu a’lam

Dijawab dengan ringkas oleh :
👤 Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله

📆 Sabtu, 02 Rabi’ul Awwal 1438 H / 31 Desember 2016

〰〰〰〰〰〰〰〰〰
🌐 http://bimbinganislam.com/
◽ Fanspage : Fb.com/Info.BimbinganIslam
🔎 Telegram Channel :
http://bit.ly/TanyaJawabBiAS

📝 ZAKAT MAL

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

🌾 Tanya Jawab
Grup Admin Bimbingan Islam N05

⏳ Pertanyaan ⏳

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه

Ustadz, apakah zakat mal boleh diberikan dalam bentuk barang?

Syukron, Ustadz.
Jazaakallahu khoiron wa baarakallaahu fiik.

(Panuwun, Admin BiAS N05)

⌛ Jawaban ⌛

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in.

Tergantung zakatnya, Akhi.
Kalau zakat Sapi atau hewan ternak sejenisnya, hasil panen dan lain-lain maka harus mengeluarkan barang tersebut.

Jika zakat uang, emas, perak maka tidak boleh dibarangkan.

Wallohu A’lam
Baarakallaahu fiikum.

Dijawab dengan ringkas oleh:
👤 Ustadz Muhammad Romelan, Lc. حفظه الله

📆 Kamis, 6 Ramadhan 1438H / 1 Juni 2017M

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
🔎 Visit :
• https://bimbinganislam.com

📲 Gabung Yuk :
• http://tinyurl.com/biasqa
• bimbinganislam.com/facebook
• bimbinganislam.com/telegram
• bimbinganislam.com/youtube
• bimbinganislam.com/mixlr
• bimbinganislam.com/instagram

📝  ZAKAT EMAS

〰〰〰〰〰〰〰〰〰
🌾 Tanya Jawab
Grup WA Bimbingan Islam T07

⏳ Pertanyaan ⏳

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ustadz, saya mau tanya, bagaimanakah ketentuan zakat untuk emas, jika ana punya emas tersebut dalam bentuk :

1. Emas batangan
2. Emas untuk perhiasan

Apakah juga harus dikeluarkan zakatnya setiap tahun?

( Fulanah SAHABAT BiAS T07 G-73)

⌛ Jawaban ⌛

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Iya emas yang tersimpan selama setahun dan sudah mencapai nishab wajib dizakati.

Nishabnya emas adalah 85gram dengan kadar 24 karat.

Jika kita sudah menyimpan emas lebih dari 85 gram selama setahun, maka wajib dizakati 2,5% dari total keseluruhan emas.

Demikian berulang setiap tahun selama nishab masih bertahan.

Wallohu A’lam
Wabillahit Taufiq

Dijawab dengan ringkas oleh :
👤 Ustadz Abul Aswad Al Bayati حفظه الله

📆 Sabtu, 29 Ramadhān 1438 H / 24 Juni 2017 M

〰〰〰〰〰〰〰〰〰
🔎 Visit :
• https://bimbinganislam.com

📲 Gabung Yuk :
• bimbinganislam.com/facebook
• bimbinganislam.com/telegram
• bimbinganislam.com/youtube
• bimbinganislam.com/mixlr
• bimbinganislam.com/instagram

📝 BAGAIMANA CARA MENGELUARKAN ZAKAT MAAL YANG SUDAH LEWAT BERTAHUN-TAHUN
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

🌿 Tanya Jawab
Grup WA Bimbingan Islam T07

📥 Pertanyaan📥

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه

Afwan Ustadz,
Saya mau tanya, saya baru tau kalau ibu saya memiliki emas lebih dari nishabnya dan kami berniat mengeluarkan zakat malnya.

Pertanyaannya, mulai kapan kita harus mengeluarkan zakat malnya karena kita tidak tau apakah ibu saya sudah keluarkan zakat malnya atau belum? Dan sekarang ibu sudah sepuh, sudah mulai pikun jadi aga susah kalau kita cari info, karena sudah banyak yang lupa.
Mohon solusinya..
Syukron jazaakallohu khoyron Ustadz

(Disampaikan oleh Ary, Sahabat BiAS T07 G-48)

⌛ Jawaban ⌛

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh

Pertanyaan serupa pernah ditanyakan kepada Imam Ibnu Utsaimin tentang orang yang tidak membayar zakat mal selama bertahun-tahun, serta bagaimana cara membayar zakatnya. Beliau menjawab :

أما تقدير الزكاة : فليتحرَّ ما هو مقدار الزكاة بقدر ما يستطيع ولا يكلف الله نفساً إلا وسعها ، فعشرة آلاف مثلاً زكاتها في السنة كم ؟ مائتان وخمسون ، فإذا كان مقدار الزكاة مائتين و خمسين فليُخرج مائتين وخمسين عن السنوات الماضية عن كل سنة إلا إذا كان في بعض السنوات قد زاد عن العشرة فليخرج مقدار هذه الزيادة ، وإن نقص في بعض السنوات سقطت عنه زكاة النقص .

“Adapun cara mengira-ngirakannya : Hendaknya ia memperkirakan nominal zakat sesuai kemampuan dan Allah tidak membebani hamba-Nya melainkan sesuai dengan kemampuannya. Misalnya 10.000 berapa zakat yang harus dikeluarkan per tahun ? 250

Jika nominal zakatnya 250 maka dibayarkan 250 setiap tahunnya sesuai jumlah tahun yang ditinggalkan zakatnya.

Apabila ada beberapa tahun kondisi harta bertambah dari jumlah awal (10.000) hendaknya nominal zakat yang dikeluarkan juga menyesuaikan. Dan apabila besaran harta berkurang maka nominal zakat yang dikeluarkan juga berkurang.”

(Liqa’ Babul Maftuh 12 Syaikh Ibnu Utsaimin pertanyaan no. 494).

(Sumber Fatawa Islamqa no. 26119).

Pada intinya kita memperkirakan sendiri semaksimal mungkin sesuai ketentuan syariat yang ada.

Wallohu a’lam
Wabillahit taufiq

Dijawab dengan ringkas oleh :
👤 Ustadz Abul Aswad Al Bayati, حفظه الله
📆 Rabu, 27 Rabi’ul Awwal 1440 H / 5 Desember 2018 M
〰〰〰〰〰〰〰〰
🔎 Visit :
• https://bimbinganislam.com

📲 Gabung Yuk :
• bimbinganislam.com/facebook
• bimbinganislam.com/telegram
• bimbinganislam.com/youtube
• bimbinganislam.com/mixlr
• bimbinganislam.com/instagram
• bimbinganislam.com/line
• http://tinyurl.com/biasqa