Cinta di Ranah Keimanan

 

Cinta di Ranah Keimanan

➖➖➖➖➖
Dewasa ini cinta dihargai murah. Soal mencintai pertimbangannya sebatas perasaan suka. Padahal tidak cukup, karena cinta sangat berkaitan dengan keimanan. Bahkan urusan cinta dikukuhkan sebagai tali keimanan terkokoh dan salah satu prinsip keyakinan (akidah) terpenting dalam Islam.

📚Rasulullah Shalallahu a’laihi wasallam bersabda,

أَوْثَقُ عُرَى الْإِيْمَانِ: الْمُوَالاَةُ فِي اللهِ وَالْمُعَادَاةُ فِي اللهِ، وَالْحُبُّ فِي اللهِ وَالْبُغْضُ فِي اللهِ

“Tali keimanan terkokoh adalah bersikap loyal (setia) karena Allah dan memusuhi karena Allah , mencintai karena Allah dan membenci karena Allah .” (HR. ath-Thabarani dalam al-Mu’jamul Kabir no.11537 dan dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 1728)

Dan cinta itu sendiri merupakan cermin dari keimanan. Ketika keimanan seseorang berkualitas super, maka ia hanya akan mencintai objek yang Allah cinta kepadanya. Sebagaimna yg telah diisyaratkan dalam firmanNya,

“Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya atau keluarganya. Meraka itulah orang-orang yang dalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan ….” (QS.al-Mujadilah:22)

Olehkarena itu, setiap orang harus selektif dalam hal mencintai, karena berkenaan dg kadar keimanan.

Apalagi lazimnya kecintaan itu akan mewariskan sikap loyal atau setia. Hal ini memaksa seseorang agar sebelum mencintai sesuatu, pertimbangannya adalah keimanan.

Wa billahit taufiq wal hidayah

(Faedah dari kajian kitab al-Utsul ats-Tsalatsah di masjid utsman bin affan Tambak)

di Dusun Pabongan, Ahad 22 Syawwal 1438

Fachrurozi

Mahasiswa LIPIA Progam Takmili 1

By |2017-11-26T06:04:28+00:00November 26th, 2017|

Leave A Comment